Bieber Love Story
written by : Intan Dwi Amalia
“Love Cannot Be
Forced” part 5
Yap! Itu tadi
percakapan antara Ryan dan Chaz via sms. Singkat cerita, Fera bersekolah di VIS
(Vancouver International School) yang dulunya merupakan sekolah Justin, Chaz
dan Ryan juga. Justin, Chaz dan Ryan sudah lulus 2 tahun yang lalu. Ketika Fera
kelas 1 SMA VIS. Jadi disini Fera umur 17 tahun, sedangkan Justin dkk 19 tahun.
Got it?
Well, aku tidak
tahu bagaimana tingkatan sekolah di Amerika sana. Anggap saja sama seperti di
Indonesia. Ok?
Disini bieber gang
sudah kuliah. Diantara bieber gang, Ryan lah yang paling dewasa. Ryan sudah
dibebani usaha keluarganya. Bisa dibilang, Ryan lumayan mapan. Jadi, selain
kuliah Ryan juga mulai membantu mengelolah usaha keluarganya. Hal ini
menyebabkan Ryan sangat sibuk, oleh karena itu Ryan hanya pemain cadangan di
tim basket Justin. sedangkan Justin dan Chaz hanya sibuk kuliah dan latihan
bassket saja. kebetulan Chustin berkuliah ditempat yang sama.
*back to story*
“aye dude! I’ve got
information bout this chick” Chaz berjalan menuju pantry dimana Justin berada
dan duduk di kursi bar. (semacam kursi yang gak ada tempat sandaran buat
punggung itu looh. Gatau apa namanya, anngep aja kursi bar. lol)
“really ? how come
?” (sungguh ? bagaimana bisa ?)
“there’s nothing
that Chaz Somers can’t do” (tidak ada satu hal pun yang Chaz Somers tidak bisa
lakukan.) Chaz mengepalkan tangannya dan menepuk-nepuknya di dada.
“i know.. i know..
ternyata aku tidak salah orang. So, what did you get ?”
“you know...” Chaz
mulai berkata,
Tetapi langsung di
potong Justin “no”
“dont interupt me
or i wont tell you about Fera.” (jangan memotong atau aku tidak akan memberi
tahu mu tentang Fera.) ancam Chaz dengan berlagak ngambek karena omongannya
yang di potong Justin.
“okay, go on.”
(baiklah, lanjutkan)
“so, Fera is our
junior.” (jadi, Fera adalah adik kelas kita.) “she’s 12thgrade” (dia kelas 12.)
lanjut Chaz.
“what ? are you
kidding me ? do i know her ? i never see her in our school.” (apa ? kamu
bercanda ? apakah aku tahu dia ? aku tidak pernah melihatnya di sekolah.)
“i don’t know.
Maybe she’s not famous” (aku tidak tahu. Mungkin dia tidak terkenal.)
“yeah you’re right!
I should meet her today”
“okay, i’m not
coming right?”
“you are coming
with me!”
---------------------------------------------------------------------
“what is going on?”
Duy berdiri melihat lapangan basket. Ini sudah masuk jam istirahat. Duy dan Fera
kembali ke kelas beberapa menit yang lalu setelah membeli beberapa snack dan
minuman. Mereka memang tidak suka makan di kantin karena di sana sangat ramai.
Selain itu mayoritass anak-anak famous yang sombong berada di kantin. Fera dan Duy
tidak suka dengan hal-hal yang begitu. Lebih tepatnya Fera sih. Maka dari itu, Fera
dan Duy tidak seberapa terkenal di sekolahnya.
“what? I don’t
know.”
“look! there are so
many peeople right there” Duy menunjuk mengarah lapangan basket
“i dont know. And i
don’t even care.” (aku tidak tahu dan bahkan tidak peduli.) ucap Fera cuek dan
tetap fokus dengan camilannya.Fera memang cuek. Tapi dia baik ke orang-orang
yang dekat dengannya.
“oh I see! There
are Justin and Chaz out there!” lanjut Duy masih menunjuk kerumunan orang-orang
di lapangan basket. “OHMYGAAAAD!!!”
“bzzzz. Those
famous guys?” ucap Fera sinis. Seperti yang aku katakan tadi, Fera tidak suka
dengan orang-orang famous. Apalagi Justin. ya, Fera tahu Justin tapi tidak
menyukainya seperti cewek-cewk VIS kebanyakan. Justin sangat terkenal di sini.
Selain karena Justin dulu kapten basket di sini, Justin memiliki tampang yang
tampan. Justin juga terkenal playboy, tapi hanya memacari cewek-cewek cantik,
dan keren saja. Pantas saja kalau Justin tidak mengetahui Fera. Fera tidak suka
Justin karena Fera tahu Justin adalah playboy cap hiu.
“hell yeah!
Ohmy...” Duy berlari keluar menuju lapangan basket.
Fera hanya
geleng-geleng kepala melihat tingkah laku sahabatnya itu. Duy memang crush on Justin
alias naksir Justin. yah siapa sih yang nggak naksir sama Justin Drew Bieber ?
hmm.. mungkin hanya Fera.
****** Justin’s POV
*****
Sekarang aku dan Chaz
sedang berada di parkiran Vancouver International School. Ya, aku disini sedang
mencari Fera. saat aku menuju gedung SMA VIS bel istirahat berbunyi. Bagus, aku
bisa menemui Fera di jam istirahat. Aku berjalan menuju ruang staff untuk
menanyakan dimana kelas Fera. aku melalui lapangan basket untuk sampai di ruang
staff.
Aku berhenti
sejenak melihat sekeliling. “hmm... aku rindu sekolah ini. Rindu bermain basket
disini. Ternyata bangunannya tidak jauh berbeda dengan dulu. hanya saja warna
catnya yang di ubah. Dari warn-” “Justin!” “that’s Justin!” “yeah, that’s Justin
wiyh Chaz!” teriakkan-teriakkan itu memotong lamunanku. O-oww! Ternyata menemui
Fera di jam istirahat bukanlah ide bagus. Malahan cewek-cewek ini berlarian
kearahku dan mengerubungiku. Sebenarnya aku tidak keberatan, karena aku tahu
dimana saja aku berada pesonaku selalu menjadi pusat perhatian.
“Justin, do you
mind if i take a photo with you?” ucap seorang gadis berambut blonde.
“not really.
Bareng-bareng aja yuk.” aku lebih memilih foto bersama karena lebih efisien.
Kalau meladeni mereka satu-satu sampai pulang sekolah juga tidak akan selesai.
Ini saja sudah keempat kalinya foto bersama, dengan orang yang berbeda pula.
“Justin, I’m your
fan. Can you sign this book?” tanya seorang cewek yang memakai behel. Hmm..
lumayan cantik hanya saja dia memakai behel
“fans? HAHA. Okay.”
aku menandatangani buku gadis berkawat tadi. Sudah cukup rasanya meladeni
gadis-gadis ini. Lupa tujuan utama ku untuk menemui Fera.
“Chaz!” aku
memanggil Chaz untuk meminta bantuan.
“okay, enough
gurls. Justin have a business.” Ucap Chaz yang sedari tadi mengamankan
kerusuhan. Sebenarnya Chaz juga banyak yang mengerubungi hanya saja tidak sebanyak
aku.
“yaaaah, but i
havent take any photo with you” teriak gadis berambut pirang yang di susul
dengan anggukan dan “yeaaah!” dari teman-temannya yang belum foto dengan ku.
“dont worry. We can
do next time.” Jawabku tersenyum dan mengedipkan mata.
“what business Justin?
maybe I can help you.” Ucap seorang gadis oriental.
“mm.. i’m looking
for a girl...”
“who’s the lucky
girl ?” potong cewek itu
“a girl named Fera.
yeah, Fera. do you know her?” ucapku sambil melihat jam. Oow, 5 menit lagi jam
istirahat akan usai.
“Fera ? Fedora
Calista ? of course i know her. She is my deskmate.” (Fera ? fedora calista ?
tentu saja aku mengenalnya. Dia teman sebangku ku.)
“are you sure? Can you tell me where is her class?”
“sure, this way!”
(tentu, lewat sini)
Aku mengikuti gadis
itu belok ke arah kanan, naik tangga, belok ke arah kanan, jalan melewati stu
kelas, dua kelas dan berhenti.
“here we are!”
“thank you...”
“Duy” ucap gadis
itu sambil tersenyum. Oh Duy namanya.
“yes, Thank you, Duy.!
Umm do you mind if you tell fera that I’m looking for her ?” (apakah kamu
keberatan untuk memberi tahu fera bahwa aku mencari nya ?)
“sure, I’ll call
her then. Just wait here”
**** Fera’s POV
****
Duy masuk ke kelas
dan berlari mengahampiriku dengan napas yang ngos-ngosan dia berteriak seperti
kesetanan “OH MY..... FERAAAAAA”
“what? Calm down
girl”
“hahh..haahh..hahh..someone
hahh...” duy mencoba mengatakan sesuatu di sela-sela napasnya yang memburu.
“relax, duy.
Someone?”
“SOMEONE LOOKING
FOR YOUU” ucapnya sambil menguncangkan tubuhku.
“hmmm?” aku
mengerutkan dahiku. Siapa yang mencariku ? kok sepertinya penting sekali
smpai-sampai tanggapan Duy seperti itu. “someone? Who’s the one?”
“lebih baik kamu
keluar kelas. He must be waiting for you.” (dia pasti menunggu mu.) ucap duy sumringah
dan mendorongku untuk pergi keluar kelas. Aku berjalan gontai menuju pintu
kelas smbil memikirkan “he?” berarti laki-laki dong, batinku. Siapa ya ? aneh.
Tidak biasanya ada yang mencari ku. Apalagi seorang laki-laki.
**** Justin’s
POV****
“yes, Thank you,
Duy.! Umm do you mind if you tell fera that I’m looking for her ?” (apakah kamu
keberatan untuk memberi tahu fera bahwa aku mencari nya ?)
“sure, I’ll call
her then. Just wait here”
Untung saja ada
gadis itu yang membantuku. Dia memberi tahuku dimana kelas fera berada. Dan
ternyata mereka satu kelass. Aku duduk, menunggu di depan kelass seperti yang
Duy katakan. Tak lama aku menunggu, muncul seorang cewek di depn pintu yang
hmm... tidak seberapa cantik. Biasa saja menurutku. Apa iya ini Fera? sepertinya
sih iya, gadis ini sedang celingukan seperti mencari seseorang. Aku berdiri dan
menghampirinya.
Udahan ah, capek;p
maaf kalo ada yang salah ketik.
Ini panjang banget
daripada biassanya. Well, Justin bakalan ketemu sama Fera. kira-kira Fera
bakalan gimana ya? excited atau biasa aja? See you at next part;]
Comment dan saran
sangat di hargai. Next part mungkin agak lama ya hhe
Much love, intan
;))

0 komentar:
Posting Komentar