Bieber Love Story
written by : Intan Dwi Amalia
“Love Cannot Be
Forced” part 2
Justin keluar dari
mobil Caitlin sebelum Caitlin bener-bener salah tingkah. Ketika Justin membuka
pintu mobil, Justin masih melihat bahwa pipi Caitlin masih merah. Alih-alih
keluar Justin malah menarik tangan Caitlin dan mengecup pipi Caitlin dengan
cepat dan berkata “i will pick you up at seven tonight.” Justin mengedipkan
mata lalu meninggalkan Caitlin dengan jantung yang jungkir balik karena tindak
kan Justin.
***************************************************************************************
Awalnya, Justin mendekati Caitlin tidak lain
tidak bukan karena tantangan dari teman-temannya, terutama Chaz. Chaz hobi
betul nyari mangsa untuk digaet. Tiap kali nemu mangsa yang susah digaet, Chaz
langsung lapor Justin dan menantangnya.
Justin merasa
tertantang benar dengan mangsa yang satu ini. Karena banyak cowok yang keder
untuk mendekati Caitlin ataupun yang nekad nembak Caitlin pasti ditolak
menntah-mentah oleh Caitlin. Belum
lagi Caitlin tipycal orang yang
highclass, pintar, jutek, sok jual mahal, jaim dan jaga jarak kayak bus. Itulah
yang membuat Justin tertarik dan ingin tahu sejauh mana Caitlin jual mahal
padanya. Ternyata mendekati Caitlin tidak sesulit yang dibayangkan Justin. Gampang
banget malah. Kelihatannya saja tahan di rayu, sok jual mahal toh akhirnya
jatuh kepelukan Justin juga. Seperti yang aku katakan, Siapa sih yang gak
takluk sama Justin ?
Justin dan Caitlin
terlihat sangat cocok. Yang satu ganteng dan yang satu cantik. Justin memiliki
perawakan yang tinggi, kulit putih, rambut yang sangat-teramat-keren- dengan
model flip-hair-nya, mata yang indah bak kacang almond, dan......... senyum
yang memikat sejuta umat. Duuh mana tahanJ
Sedangkan Caitlin sendiri memiliki bola mata yang bulat, bulu mata yang tebal
dan lentik, hidung yang mancung dan bibir yang mungil dan merah, rambut yang
blonde, serta lesung pipit yang terdapat di pipi kanan dan kiri Caitlin membuat
senyumnya tak kalah menarik. What a couple match, bukan ?
***************************************************************************************
Jam setengah 7 Justin
sudah siap untuk menjemput Caitlin dirumahnya. Justin menggunakan kemeja putih
didobeli vest kulit warna hitam. Justin menyambar kunci mobilnya dan menaiki
range rover hitam kesayangannya dan melaju ke rumah Caitlin. Tak lama Justin
sampai dirumah Caitlin, dia melihat jam nya, masih kurang 5 menit gumamnya. Justin
memutuskan mengirim pesan singkat ke Caitlin yang isinya begini ;
“haven’t ready yet?
I’m in front of your palace my princess :)”
“hold on, i’ll go
there in 3minutes.” Jawab Caitlin yang tenggah memakai high-heels guess
setinggi 9centimeter kesayangannya.
Sebelum keluar dari
kamarnya dan menemui Justin, Caitlin memoleskan lipbalm strawberry di bibir
mungilnya dan kembali melihat
refleksinya di cermin dan memutar-mutarkan badannya. “awesome!” gumam Caitlin kepada
dirinya sendiri.
Caitlin turun dari
kamarnya dan keluar dari rumahnya menuju mobil Justin yang tepat berada di
depan pagar rumahnya. Begitu masuk mobil Justin Caitlin disambut dengan
senyuman memikat Justin yang langsung membuat Caitlin terpaku. Caitlin gerogi,
tanggannya gemetaran di atas pangkuannya. Spontan Justin tertawa melihat
tingkah laku Caitlin. Caitlin semakin gerogi dan memutuskan menggunakan sabuk
pengaman demi keselamatan jiwa, raga dan hatinya(?)
“you look awesomome
tonight ?” kata Justin sambil mengemudikan mobilnya.
“i know, as asual”
jawab Caitlin dengan senyum (sok) sinis padahal jantungnya sedang berdegup
lebih kencang dari biasanya.
“yeah, as asual.
But tonight you look more. More beautiful” tetep ya Justin namanya juga
playboy.
“you don’t need to
tell me because i know it right Justin. Anyways, where will we go ?”
“you said, i don’t
need to tell you, Sweetie. but now you asked me, should i tell you then ?
“nevermind” jawab Caitlin keki. Dan
akhirnya.... Hening.
15menit berlalu
masih dengan keheningan. Justin yang sedang mengemudi beberapa kali melirik
kearah Caitlin di sebelahnya yang sedang berkonsentrasi dengan ponselnya.
“Caitlin....” ucap Justin
yang memecahkan keheningan “mhhmm” jawab Caitlin yang masih saja berkutat
dengan ponselnya. Sangking konsentrasi ke ponselnya Caitlin tidak menyadari
mobilnya telah berhenti karena telah sampai tujuan dan masih saja berkutat
dengan ponselnya.
Akhirnya Justin
turun dan membukakan pintu untuk Caitlin dan membiarkannya dia turun.
“here we go,
Sweetie.” Justin mengulurkan tangan untuk digandeng Caitlin.
“already arrived eh,
where are we?” sahut Caitlin yang sudah memasukkan ponselnya dan mengaitkan
tangannya ke tangan Justin.
“a restaurant, we
are gonna party tonight.”
“party? What for?”
tanya Caitlin polos atau sok polos ? entahlah.
Justin melirik Caitlin
dengan ekor matanya, batinnya; “ini orang pura-pura gak care atau memang nggak
care ?” Justin mendesah pelan berhenti ditempat. Melepaskan gandengannya dengan
Caitlin. Berputar ke arah Caitlin. Meletakkan tangannya di pundak Caitlin.
Menatapnya lurus dan berkata;
“hmm..,” desah Justin
pelan dan menatap Caitlin dengan tatapan ingin mematikan, ---bukan memikat
seperti biasanya--- yang dapat dirasakan Caitlin saat itu adalah; tubuhnya
menegang.
“don’t stare me
like that, babe.” (“jangan tatap aku seperti itu, sayang.”)
“did you forget,
today I... i mean my team won the basketball competition, so we’ll celebrate
our victory” (“apakah kau lupa? Hari ini aku... maksudku tim ku telah
memenangkan pertandingan bola basket. Jadi, kita akan merayakan kemenagan
kita.”)
“ooh, sorry. obviously
i remember it.”
“okay, just get in
the restaurant then. My team must be waiting for us.” Justin meletakkan
tangannya mengelilingi bahu Caitlin dan Caitlin merangkul pinggang Justin.
Mereka memasuki restoran yang telah disewa khusus untuk merayakan kemenangan
mereka.
“aye bro!” sapa Justin
kepada teman-teman grup nya dan tak lupa menyalami mereka satu-satu dengan cara
mereka sendiri
“oh, hi Caitlin..
you look very beautiful tonight.” Ucap Chaz kepada Caitlin sambil mengedipkan
matanya.
“hi Chaz. Thank
you, you look a lil’ bit more handsome tonight.”
“just a little bit
huh ?” Chaz mengulum bibirnya, sedikit tidak terima karena dibilang ‘sedikit’
lebih ganteng. Ya! Hanya ‘sedikit’. Tapi, sebenarnya Chaz cukup senang dipuji Caitlin
karena... hmm... kalian mau tau ? aku rasa kalian sudah tau apa alasannya;)
“AHAHAHA! C’mon Chaz..
where is Ryan ?” tanya justin kepada chaz sambil celingukan mencari ryan. Sejak
seusai pertandingan di Vancouver Basketball Arena tadi, Ryan langsung ngibrit.
Katanya sih ada urusan keluarga gitu.
Chaz ikut
celingukan dan menemukan sosok yang mereka cari “nah, thats him!” chaz
mengarahkan tangannya kearah sosok pria yang berjalan kearah mereka. Ryan. Yap!
Yang dimaksud adalah Ryan Butler. Justin, Chaz, dan Ryan memang sudah berteman sejak kecil dan
kebetulan ---kebetulan yang disengaja—mereka satu tim di Neirro.
“hey bro, whats
up!” justin menyapa ryan yang terlihat (sedikit) murung, tidak seperti biasanya
yang cengegesan.
“hmmm..” desah ryan
pelan tapi terdengar jelas oleh kedua sahabatnya itu.
“are you okay dude?” chaz bertanya kepada
ryan, tapi ryan tidak menjawab juga.
“i’m okay, just
have too many thoughts.” Ryan menjawab dengan senyum tipis, setipis kulit
lumpia.
“okaaay, just have
fun the party and told you, you can share anything to us. We are bestfriend,
dude.” Ucap justin.
Tak biasanya Ryan
terlihat murung begitu. Apakah ada sesuatu yang benar-benar membebani nya ?
lalu apakah beban itu ?
------------------------------------------------------------------------
thats all part 2. comment please ?
@intanmaniani xoxo

0 komentar:
Posting Komentar