Jumat, 11 Mei 2012

Love Cannot Be Forced part 2


Bieber Love Story written by :  Intan Dwi Amalia


“Love Cannot Be Forced” part 2


Justin keluar dari mobil Caitlin sebelum Caitlin bener-bener salah tingkah. Ketika Justin membuka pintu mobil, Justin masih melihat bahwa pipi Caitlin masih merah. Alih-alih keluar Justin malah menarik tangan Caitlin dan mengecup pipi Caitlin dengan cepat dan berkata “i will pick you up at seven tonight.” Justin mengedipkan mata lalu meninggalkan Caitlin dengan jantung yang jungkir balik karena tindak kan Justin.

***************************************************************************************

Awalnya, Justin mendekati Caitlin tidak lain tidak bukan karena tantangan dari teman-temannya, terutama Chaz. Chaz hobi betul nyari mangsa untuk digaet. Tiap kali nemu mangsa yang susah digaet, Chaz langsung lapor Justin dan menantangnya.
Justin merasa tertantang benar dengan mangsa yang satu ini. Karena banyak cowok yang keder untuk mendekati Caitlin ataupun yang nekad nembak Caitlin pasti ditolak menntah-mentah oleh Caitlin.  Belum lagi  Caitlin tipycal orang yang highclass, pintar, jutek, sok jual mahal, jaim dan jaga jarak kayak bus. Itulah yang membuat Justin tertarik dan ingin tahu sejauh mana Caitlin jual mahal padanya. Ternyata mendekati Caitlin tidak sesulit yang dibayangkan Justin. Gampang banget malah. Kelihatannya saja tahan di rayu, sok jual mahal toh akhirnya jatuh kepelukan Justin juga. Seperti yang aku katakan, Siapa sih yang gak takluk sama Justin ?
Justin dan Caitlin terlihat sangat cocok. Yang satu ganteng dan yang satu cantik. Justin memiliki perawakan yang tinggi, kulit putih, rambut yang sangat-teramat-keren- dengan model flip-hair-nya, mata yang indah bak kacang almond, dan......... senyum yang memikat sejuta umat. Duuh mana tahanJ Sedangkan Caitlin sendiri memiliki bola mata yang bulat, bulu mata yang tebal dan lentik, hidung yang mancung dan bibir yang mungil dan merah, rambut yang blonde, serta lesung pipit yang terdapat di pipi kanan dan kiri Caitlin membuat senyumnya tak kalah menarik. What a couple match, bukan ?


***************************************************************************************


Jam setengah 7 Justin sudah siap untuk menjemput Caitlin dirumahnya. Justin menggunakan kemeja putih didobeli vest kulit warna hitam. Justin menyambar kunci mobilnya dan menaiki range rover hitam kesayangannya dan melaju ke rumah Caitlin. Tak lama Justin sampai dirumah Caitlin, dia melihat jam nya, masih kurang 5 menit gumamnya. Justin memutuskan mengirim pesan singkat ke Caitlin yang isinya begini ;
“haven’t ready yet? I’m in front of your palace my princess :)”
“hold on, i’ll go there in 3minutes.” Jawab Caitlin yang tenggah memakai high-heels guess setinggi 9centimeter kesayangannya.
Sebelum keluar dari kamarnya dan menemui Justin, Caitlin memoleskan lipbalm strawberry di bibir mungilnya dan  kembali melihat refleksinya di cermin dan memutar-mutarkan badannya. “awesome!” gumam Caitlin kepada dirinya sendiri.
Caitlin turun dari kamarnya dan keluar dari rumahnya menuju mobil Justin yang tepat berada di depan pagar rumahnya. Begitu masuk mobil Justin Caitlin disambut dengan senyuman memikat Justin yang langsung membuat Caitlin terpaku. Caitlin gerogi, tanggannya gemetaran di atas pangkuannya. Spontan Justin tertawa melihat tingkah laku Caitlin. Caitlin semakin gerogi dan memutuskan menggunakan sabuk pengaman demi keselamatan jiwa, raga dan hatinya(?)
“you look awesomome tonight ?” kata Justin sambil mengemudikan mobilnya.
“i know, as asual” jawab Caitlin dengan senyum (sok) sinis padahal jantungnya sedang berdegup lebih kencang dari biasanya.
“yeah, as asual. But tonight you look more. More beautiful” tetep ya Justin namanya juga playboy.
“you don’t need to tell me because i know it right Justin. Anyways, where will we go ?”
“you said, i don’t need to tell you, Sweetie. but now you asked me, should i tell you then ?
 “nevermind” jawab Caitlin keki. Dan akhirnya.... Hening.
15menit berlalu masih dengan keheningan. Justin yang sedang mengemudi beberapa kali melirik kearah Caitlin di sebelahnya yang sedang berkonsentrasi dengan ponselnya.
“Caitlin....” ucap Justin yang memecahkan keheningan “mhhmm” jawab Caitlin yang masih saja berkutat dengan ponselnya. Sangking konsentrasi ke ponselnya Caitlin tidak menyadari mobilnya telah berhenti karena telah sampai tujuan dan masih saja berkutat dengan ponselnya.
Akhirnya Justin turun dan membukakan pintu untuk Caitlin dan membiarkannya dia turun.
“here we go, Sweetie.” Justin mengulurkan tangan untuk digandeng Caitlin.
“already arrived eh, where are we?” sahut Caitlin yang sudah memasukkan ponselnya dan mengaitkan tangannya ke tangan Justin.
“a restaurant, we are gonna party tonight.”
“party? What for?” tanya Caitlin polos atau sok polos ? entahlah.
Justin melirik Caitlin dengan ekor matanya, batinnya; “ini orang pura-pura gak care atau memang nggak care ?” Justin mendesah pelan berhenti ditempat. Melepaskan gandengannya dengan Caitlin. Berputar ke arah Caitlin. Meletakkan tangannya di pundak Caitlin. Menatapnya lurus dan berkata;
“hmm..,” desah Justin pelan dan menatap Caitlin dengan tatapan ingin mematikan, ---bukan memikat seperti biasanya--- yang dapat dirasakan Caitlin saat itu adalah; tubuhnya menegang.
“don’t stare me like that, babe.” (“jangan tatap aku seperti itu, sayang.”)
“did you forget, today I... i mean my team won the basketball competition, so we’ll celebrate our victory” (“apakah kau lupa? Hari ini aku... maksudku tim ku telah memenangkan pertandingan bola basket. Jadi, kita akan merayakan kemenagan kita.”)
“ooh, sorry. obviously i remember it.”
“okay, just get in the restaurant then. My team must be waiting for us.” Justin meletakkan tangannya mengelilingi bahu Caitlin dan Caitlin merangkul pinggang Justin. Mereka memasuki restoran yang telah disewa khusus untuk merayakan kemenangan mereka.

“aye bro!” sapa Justin kepada teman-teman grup nya dan tak lupa menyalami mereka satu-satu dengan cara mereka sendiri
“oh, hi Caitlin.. you look very beautiful tonight.” Ucap Chaz kepada Caitlin sambil mengedipkan matanya.
“hi Chaz. Thank you, you look a lil’ bit more handsome tonight.”
“just a little bit huh ?” Chaz mengulum bibirnya, sedikit tidak terima karena dibilang ‘sedikit’ lebih ganteng. Ya! Hanya ‘sedikit’. Tapi, sebenarnya Chaz cukup senang dipuji Caitlin karena... hmm... kalian mau tau ? aku rasa kalian sudah tau apa alasannya;)
“AHAHAHA! C’mon Chaz.. where is Ryan ?” tanya justin kepada chaz sambil celingukan mencari ryan. Sejak seusai pertandingan di Vancouver Basketball Arena tadi, Ryan langsung ngibrit. Katanya sih ada urusan keluarga gitu.
Chaz ikut celingukan dan menemukan sosok yang mereka cari “nah, thats him!” chaz mengarahkan tangannya kearah sosok pria yang berjalan kearah mereka. Ryan. Yap! Yang dimaksud adalah Ryan Butler. Justin, Chaz, dan  Ryan memang sudah berteman sejak kecil dan kebetulan ---kebetulan yang disengaja—mereka satu tim di Neirro.

“hey bro, whats up!” justin menyapa ryan yang terlihat (sedikit) murung, tidak seperti biasanya yang cengegesan.
“hmmm..” desah ryan pelan tapi terdengar jelas oleh kedua sahabatnya itu.
 “are you okay dude?” chaz bertanya kepada ryan, tapi ryan tidak menjawab juga.
“i’m okay, just have too many thoughts.” Ryan menjawab dengan senyum tipis, setipis kulit lumpia.
“okaaay, just have fun the party and told you, you can share anything to us. We are bestfriend, dude.” Ucap justin.



Tak biasanya Ryan terlihat murung begitu. Apakah ada sesuatu yang benar-benar membebani nya ? lalu apakah beban itu ? 


------------------------------------------------------------------------

thats all part 2. comment please ?

@intanmaniani xoxo

0 komentar:

Posting Komentar