Jumat, 11 Mei 2012

Love Cannot Be Forced part 3

Bieber Love Story written by :  Intan Dwi Amalia


“Love Cannot Be Forced” part 3


“i’m okay, just have too many thoughts.” (aku tak apa-apa, cuma terlalu banyak pikiran.) Ryan menjawab dengan senyum tipis, setipis kulit lumpia.
“okaaay, just have fun the party and told you, you can share anything to us. We are bestfriend, dude.” (baiklah, nikmati saja pesta ini, dan seperti yang pernah aku katakan padamu, kau bisa menceritakan apapun kepada kami. Kita ini sahabat.) Ucap justin.
Tak biasanya Ryan terlihat murung begitu. Apakah ada sesuatu yang benar-benar membebani nya ? lalu apakah beban itu ?

******************************************************************************************

Pesta belum usai, saatnya menyantap makanan yang terlihat menggugah selera. Justin, caitlin, chaz, dan Ryan duduk di satu meja yang melingkar. Mereka sudah selesai makan. Caitlin permisi meninggalkan mereka bertiga ke toilet.

“uuhmmm guys...,” Ryan berkata ragu
“yeess?” chustin, Chaz dan Justin berkata bersamaan. Duuhh, kompak betul ya mereka.
“i wanna tell you something,” (aku ingin memberi tahu sesuatu hal kepada kalian.) Ucap Ryan setengah berbisik yang membuat kedua sahabatnya penasaran.
“what?” jawab Chustin bersamaan, lagi.  Duuhh, kompak betul ya mereka.
“aku sedang di jodohkan oleh orang tua ku.”
“WHAT?!” lagi-lagi mereka menjawabnya bersamaan. Setengah kaget juga masa iya sih ada perjodohan di western. Oke ini aneh, tapi tergantung penulis bukan ? ;)

“yes, I’m in matchmaking. My parents asked me and I cant ignore them.” (ya, aku sedang dijodohkan. (Orang tuaku memintaa kepadaku, dan aku tidak bisa menolaknya.) [ps; aku tidak tahu apa bahasa inggrisnya perjodohan, dan ketika aku bertanya google dia menjawab: ‘matchmaking’.]
“are you serious?” “your parents forced you huh?”  “whats her name?” “does she beautiful?” “have you meet the girl ?” “how does the girl look like?’ bertubi-tubi pertanyaan dilontarkan oleh Justin dan Chaz kepada Ryan.
Ryan hanya menjawab; “i’m serious. No they didn’t force me. Her name is Fera. No I haven’t met her yet, so i don’t know how she looks like.”
“hmmm, but you dont like her, do you?’ (tetapi kamu tidak menyukainya, kan?)tanya justin kepada Ryan dengan wajah menyelidik
“don’t know, justin. I don’t even meet her.” (tidak tahu, Justin. Aku bahkan belum menemuinya.)
“apa salahnya untuk mencoba dulu” celetuk Chaz sok bijak
“oke, tapi aku rasa aku harus mengujinya terlebih dahulu” ucap Justin sambil mengelus-elus dagunya
“ha? Mengujinya? untuk apa justin?”
“yaa untuk membuktikan apakah dia benar-benar mencintaimu atau hanya menginginkan sesuatu dari mu”
“baiklah, terserah kepadamu” ucap Ryan pasrah yang melihat caitlin menuju meja mereka sedari tadi di toilet.
“justin, can we go now ? i gotta go home”
“sure, guys i go first. Talk to you later”
“oke,” “take care bro” yang dijawab justin dengan acungan jempol


Keesokan harinya di rumah Ryan...

Fera dan Fiona (Ibunya) telah tiba di rumah Ryan. Ryan dan Fera memang telah di jodohkan oleh orang tua mereka sejak mereka kecil. Orang tua mereka bersahabat dan Ayah Fera yang sudah meninggal berjasa besar kepada keluarga Ryan. Ayah Fera telah membantu usaha ayah Ryan yang kala itu sedang terpuruk sehingga bisa bangkit lagi seperti sekarang ini. Keluarga Ryan ingin membalass budi dan menjadikan Fera sebagai anggota keluarga mereka agar bisa melindungi Fera.

Jack dan Jane (ayah dan ibu Ryan) memersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu menunggu kedatanggan  Ryan. tak lama Ryan datang dengan mobil Juke putih nya. Fiona dan Fera langsung berdiri. Ryan tersenyum dan menyalami mereka berdua dan menanyakan kabar dan berkenalan.
“Ryan Butler” ryan mengulurkan tanganya
Fera menyambut uluran tngan Ryan dan menjabatnya “Fera. Fedora Calista.”
“waah, ini dia Ryan. sudah gede ya ganteng pula.” Kata fiona sambil menepuk-nepuk bahu Ryan
Betul kata Fiona, Ryan cakep banget. Apa tidak salah di jodohkan dengan Fera? Rasanya kurang pantass saja karena Fera tidak begitu cantik. Tentu saja Ryan bisa mendapatkan gadis yang lebih cantik dari dirinya, batin Fera.

“take a seat” (silahkan duduk)
Mereka duduk di ruang tamu bersamaan. Awalnya suasana sedikit canggung, tapi lama-lama menair juga. Tentu saja Jack, Jane dan Fiona yang mencairkan suasana. Mereka sibuk berbincang-bincang karena telah lama tak bertemu. Sedangkan Ryan dan Fera sendiri hanya berbicara seperlunya saja.
Tiba-tiba Jack berdiri dan berkata “let’s we make something to eat” kepada Jane dan Fiona. Sengaja meninggalkan Ryan dan Fera agar meraka bisa lebih leluasa berbincang-bincang.
Begitu mereka pergi suasana ruang tamu menjadi hening. Sangat hening. Hingga akhirnya Fera berbicara
“umm, sorry Ryan. don’t you feel something weird with our match-making ?”  (maaaf Ryan. tidakkah kau merasa aneh dengan perjodohan kita ini?) sebelum semuanya menjadi canggung, lebih baik dibuka sekalian saja pikir Fera.
Ryan tersenyum, tidak menyangka Fera akan membuka perbincangan mereka terlebih dahulu. “is there something wrong?” (apakah ada yang salah?) Ryan balik bertanya. “or you already have a boyfriend?” (atau kau sudah memiliki pacar?) lanjut Ryan
“nope, just maybe you feel we’re get forced eh?” jawab Fera
Ryan terkekeh pelan mendengar pertanyaan Fera yang dijawab dengan gelengan kepala dan berkata “we just met, better we know further about eachother.” (kita baru saja bertemu, lebih baik kita mengenal lebih jauh tentang kita.”
“agreed!” Fera mengulurkan tangannya dan tersenyum lega. Ternyata Ryan tidak seburuk yang ia bayangkan. Ryan menyambut uluran tangan Fera. Gadis yang menyenangkan, batin Ryan.



 -continue-

intan xoxox

0 komentar:

Posting Komentar