Bieber Love Story
written by : Intan Dwi Amalia
“Love Cannot Be
Forced” part 3
“i’m okay, just
have too many thoughts.” (aku tak apa-apa, cuma terlalu banyak pikiran.) Ryan
menjawab dengan senyum tipis, setipis kulit lumpia.
“okaaay, just have
fun the party and told you, you can share anything to us. We are bestfriend,
dude.” (baiklah, nikmati saja pesta ini, dan seperti yang pernah aku katakan
padamu, kau bisa menceritakan apapun kepada kami. Kita ini sahabat.) Ucap
justin.
Tak biasanya Ryan
terlihat murung begitu. Apakah ada sesuatu yang benar-benar membebani nya ?
lalu apakah beban itu ?
******************************************************************************************
Pesta belum usai,
saatnya menyantap makanan yang terlihat menggugah selera. Justin, caitlin,
chaz, dan Ryan duduk di satu meja yang melingkar. Mereka sudah selesai makan.
Caitlin permisi meninggalkan mereka bertiga ke toilet.
“uuhmmm guys...,” Ryan
berkata ragu
“yeess?” chustin,
Chaz dan Justin berkata bersamaan. Duuhh, kompak betul ya mereka.
“i wanna tell you
something,” (aku ingin memberi tahu sesuatu hal kepada kalian.) Ucap Ryan
setengah berbisik yang membuat kedua sahabatnya penasaran.
“what?” jawab
Chustin bersamaan, lagi. Duuhh, kompak
betul ya mereka.
“aku sedang di
jodohkan oleh orang tua ku.”
“WHAT?!” lagi-lagi
mereka menjawabnya bersamaan. Setengah kaget juga masa iya sih ada perjodohan
di western. Oke ini aneh, tapi tergantung penulis bukan ? ;)
“yes, I’m in
matchmaking. My parents asked me and I cant ignore them.” (ya, aku sedang
dijodohkan. (Orang tuaku memintaa kepadaku, dan aku tidak bisa menolaknya.)
[ps; aku tidak tahu apa bahasa inggrisnya perjodohan, dan ketika aku bertanya
google dia menjawab: ‘matchmaking’.]
“are you serious?”
“your parents forced you huh?” “whats
her name?” “does she beautiful?” “have you meet the girl ?” “how does the girl
look like?’ bertubi-tubi pertanyaan dilontarkan oleh Justin dan Chaz kepada Ryan.
Ryan hanya
menjawab; “i’m serious. No they didn’t force me. Her name is Fera. No I haven’t
met her yet, so i don’t know how she looks like.”
“hmmm, but you dont
like her, do you?’ (tetapi kamu tidak menyukainya, kan?)tanya justin kepada Ryan
dengan wajah menyelidik
“don’t know,
justin. I don’t even meet her.” (tidak tahu, Justin. Aku bahkan belum
menemuinya.)
“apa salahnya untuk
mencoba dulu” celetuk Chaz sok bijak
“oke, tapi aku rasa
aku harus mengujinya terlebih dahulu” ucap Justin sambil mengelus-elus dagunya
“ha? Mengujinya?
untuk apa justin?”
“yaa untuk
membuktikan apakah dia benar-benar mencintaimu atau hanya menginginkan sesuatu
dari mu”
“baiklah, terserah
kepadamu” ucap Ryan pasrah yang melihat caitlin menuju meja mereka sedari tadi
di toilet.
“justin, can we go
now ? i gotta go home”
“sure, guys i go
first. Talk to you later”
“oke,” “take care
bro” yang dijawab justin dengan acungan jempol
Keesokan harinya di
rumah Ryan...
Fera dan Fiona (Ibunya)
telah tiba di rumah Ryan. Ryan dan Fera memang telah di jodohkan oleh orang tua
mereka sejak mereka kecil. Orang tua mereka bersahabat dan Ayah Fera yang sudah
meninggal berjasa besar kepada keluarga Ryan. Ayah Fera telah membantu usaha
ayah Ryan yang kala itu sedang terpuruk sehingga bisa bangkit lagi seperti
sekarang ini. Keluarga Ryan ingin membalass budi dan menjadikan Fera sebagai
anggota keluarga mereka agar bisa melindungi Fera.
Jack dan Jane (ayah
dan ibu Ryan) memersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu menunggu
kedatanggan Ryan. tak lama Ryan datang
dengan mobil Juke putih nya. Fiona dan Fera langsung berdiri. Ryan tersenyum
dan menyalami mereka berdua dan menanyakan kabar dan berkenalan.
“Ryan Butler” ryan
mengulurkan tanganya
Fera menyambut
uluran tngan Ryan dan menjabatnya “Fera. Fedora Calista.”
“waah, ini dia Ryan.
sudah gede ya ganteng pula.” Kata fiona sambil menepuk-nepuk bahu Ryan
Betul kata Fiona, Ryan
cakep banget. Apa tidak salah di jodohkan dengan Fera? Rasanya kurang pantass
saja karena Fera tidak begitu cantik. Tentu saja Ryan bisa mendapatkan gadis
yang lebih cantik dari dirinya, batin Fera.
“take a seat”
(silahkan duduk)
Mereka duduk di
ruang tamu bersamaan. Awalnya suasana sedikit canggung, tapi lama-lama menair
juga. Tentu saja Jack, Jane dan Fiona yang mencairkan suasana. Mereka sibuk
berbincang-bincang karena telah lama tak bertemu. Sedangkan Ryan dan Fera
sendiri hanya berbicara seperlunya saja.
Tiba-tiba Jack
berdiri dan berkata “let’s we make something to eat” kepada Jane dan Fiona.
Sengaja meninggalkan Ryan dan Fera agar meraka bisa lebih leluasa
berbincang-bincang.
Begitu mereka pergi
suasana ruang tamu menjadi hening. Sangat hening. Hingga akhirnya Fera
berbicara
“umm, sorry Ryan.
don’t you feel something weird with our match-making ?” (maaaf Ryan. tidakkah kau merasa aneh dengan
perjodohan kita ini?) sebelum semuanya menjadi canggung, lebih baik dibuka
sekalian saja pikir Fera.
Ryan tersenyum,
tidak menyangka Fera akan membuka perbincangan mereka terlebih dahulu. “is
there something wrong?” (apakah ada yang salah?) Ryan balik bertanya. “or you
already have a boyfriend?” (atau kau sudah memiliki pacar?) lanjut Ryan
“nope, just maybe
you feel we’re get forced eh?” jawab Fera
Ryan terkekeh pelan
mendengar pertanyaan Fera yang dijawab dengan gelengan kepala dan berkata “we
just met, better we know further about eachother.” (kita baru saja bertemu,
lebih baik kita mengenal lebih jauh tentang kita.”
“agreed!” Fera
mengulurkan tangannya dan tersenyum lega. Ternyata Ryan tidak seburuk yang ia
bayangkan. Ryan menyambut uluran tangan Fera. Gadis yang menyenangkan, batin Ryan.
-continue-
intan xoxox

0 komentar:
Posting Komentar